5 Guru yang Mengubah Dunia

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia. Pada Hari Guru ini, kita memberikan penghargaan kepada Bapak dan Ibu Guru yang telah berjasa membuat kita menjadi manusia yang lebih tahu, lebih bijak, dan lebih baik melalui pengetahuan serta didikan mereka.

Dimana-mana guru merupakan sebuah pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan yang mulia karena menentukan masa depan sebuah bangsa. Berikut ini merupakan daftar lima guru yang dianggap telah mengubah dunia.

Konfusius
Konfusius

Konfusius merupakan guru dan filsuf dari China yang pengajarannya telah memberikan pengaruh yang mendalam kepada masyarakat China, Korea, Jepang, dan Vietnam. Konfusius mengajari murid-muridnya dengan memberikan teladan perilaku di samping pengajaran melalui kata-kata (verbal). Ia dikenal sebagai seorang guru yang memiliki integritas, baik hati, rendah hati, sopan, dan setia kepada negara. Konfusius selalu memperlakukan murid-muridnya secara setara, tanpa mempedulikan kedudukan social atau kekayaan.

 

Kehebatan Konfusius membuat banyak murid-murid berdatangan dari negeri lain. Beberapa nama murid-muridnya adalah Yan Yuan, Zhong Gong, Zai Wo, dan Zi Gong yang di kemudian hari memberikan pengaruh pada kehidupan politik China. Hingga saat ini, Konfusius dikenang sebagai guru besar yang menjunjung tinggi nilai moral dan sebagai guru profesional pertama dalam sejarah China.

Aristoteles
Aristoteles

Aristoteles merupakan seorang filsuf dari Yunani dan merupakan murid dari Plato. Ia mengajar banyak hal seperti fisika, puisi, teater, musik, logika, politik, biologi, dan zoologi. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Aleksander Agung, seorang pemimpin Makedonia yang menaklukkan Yunani dan Persia.

Pada tahun 343 SM, Aristoteles dipanggil oleh Raja Philip II dari Makedonia untuk menjadi guru bagi anaknya, Aleksander. Pengaruh Aristoteles terhadap Aleksander dapat dilihat dari keterampilan Aleksander dalam berdiplomasi dan mengatasi masalah politik selama karirnya sebagai penguasa. Aleksander juga dikenal suka membawa buku-buku saat sedang melakukan perjalanan untuk menaklukkan daerah-daerah. Kesukaan Aleksander akan seni dan budaya juga merupakan pengaruh dari gurunya, Aristoteles.

Albert Einstein
Albert Einstein

Albert Einstein adalah seorang ilmuwan dan guru fisika, juga seorang penulis yang kepopulerannya melampaui semua ilmuwan dalam sejarah. Begitu populernya Einstein hingga namanya sendiri dianggap bersinonim dengan kata kecerdasan atau bahkan jenius.

Pemikiran-pemikiran Einstein tentang relativitas umum dan relativitas khusus mengubah pandangan dunia. Ia juga dikenal karena teorinya yang merevolusi mekanika kuantum, mekanika statistik dan kosmologi. Teori-teori fisika Einstein tersebut terus dikembangkan serta terus mempengaruhi pandangan dunia dalam banyak hal.

Hanan Al Hroub
Hanan Al Hroub

Hanan Al Hroub, pemenang Global Teacher Prize 2016 adalah seorang guru yang berjasa mengajar anak-anak di kamp pengungsi Deheishe, sebelah selatan kota Bethlehem, Palestina. Ia dengan penuh cinta tidak hanya mengajarkan sains namun juga pendidikan karakter dan motivasi. Hanan mengembangkan sistem pendidikan bahwa belajar itu menyenangkan, tak membosankan, penuh warna, dan interaktif. Selain itu belajar adalah sarana bermain yang santai namun serius.

Sosok Hanan Al Hroub telah membuka mata dunia akan kondisi pengungsian dan kebutuhan pendidikan yang menyenangkan untuk menghapus trauma di antara anak-anak korban perang. Hanan Al Hroub sendiri menjadi inspirasi banyak orang untuk lebih peduli terhadap pendidikan bagi anak-anak pengungsi korban perang atau bencana alam.

Tagore
Rabindranath Tagore

Rabindranath Tagore adalah seorang ‘brahmana’ dari Kolkata, India yang pada tahun 1913 mendapatkan anugerah Nobel di bidang sastra. Ia menjadi orang Asia pertama yang meraih Nobel Sastra.

Tagore adalah seorang guru dan pejuang hak asasi terutama bagi kaum Dalit di India. Kaum Dalit adalah sekelompok orang yang dianggap kasta terendah sehingga sering mendapat perlakuan tidak manusiawi.

Sebagian besar hidup Rabindranath Tagore difokuskan untuk membangun sekolah-sekolah bagi orang miskin. Tagore percaya bahwa satu-satunya cara membebaskan rakyat dari kebodohan dan kemiskinan adalah dengan pendidikan.

Pemikiran Rabindranath Tagore dalam dunia pendidikan banyak diadopsi oleh para pejuang kemanusiaan, termasuk salah satunya adalah Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Sekolah yang dikelola Tagore, Shantiniketan (tempat tinggal yang damai), menjadi sumber inspirasi Ki Hadjar Dewantara dalam mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta.

 

 

 

 

Komentar