Melindungi Mata Si Kecil dari Radiasi Cahaya Biru

Di masa Internet of Things (IoT) seperti ini, sehari-hari kita banyak berhadapan dengan perangkat digital yang saling terhubung. Sejak lahir, si kecil pun tidak terhindarkan dari perangkat digital yang ada di sekitarnya. Perangkat-perangkat digital ini mengeluarkan blue light atau cahaya biru yang dapat memberi dampak buruk radiasi. Agar kita dapat mewaspadai bahayanya, mari mengenal lebih jauh tentang cahaya biru ini.

Cahaya biru sebenarnya ada di mana-mana. Secara alami, cahaya biru berasal dari cahaya matahari. Inilah yang membuat langit terlihat biru. Tubuh kita juga menggunakan cahaya biru dari matahari untuk mengatur siklus tidur dan bangun alami kita. Ini dikenal sebagai ritme sirkadian. Cahaya biru membantu meningkatkan kewaspadaan dan memperbaiki mood. Sumber cahaya biru buatan adalah perangkat elektronik seperti ponsel, komputer, laptop, lampu neon, dan lampu LED.

 

 

 

 

Perkembangan teknologi layar digital meningkat drastis beberapa tahun belakangan, dan makin banyak perangkat elektronik saat ini menggunakan teknologi lampu latar LED untuk membantu meningkatkan kecerahan dan kejernihan layar. LED memancarkan gelombang cahaya biru yang sangat kuat. Ponsel, komputer, tablet, dan televisi layar datar hanyalah beberapa di antara perangkat yang menggunakan teknologi ini. Karena penggunaannya yang luas dan popularitasnya meningkat, kita terpapar pada semakin banyak sumber cahaya biru dan untuk periode waktu yang lebih lama, tak terkecuali si kecil.

Agar mata si kecil terhindar dari bahaya radiasi sinar biru ini, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

  1. Mengatur jarak dari layar digital

Jarak dari mara ke layar komputer sebaiknya sepanjang lengan yang terulur sehingga ujung jari menyentuh layar. Sementara itu, layar ponsel sebaiknya berjarak 30-40 cm dari mata. Pastikan juga agar posisi perangkat lebih rendah dari mata dengan membentuk sudut sekitar 15 derajat.

  1. Istirahatkan mata setiap 20 menit

Ingat rumus 20-20-20, yaitu mengistirahatkan mata setiap 20 menit, selama 20 detik, dengan memandang benda lain yang berada 20 kaki atau 6 meter dari mata kita. Hal ini memberi waktu bagi mata agar dapat beristirahat dan mengubah fokus.

  1. Mengatur cahaya layar dan besar huruf

Untuk mengurangi ketegangan mata terhadap layar digital, Anda dapat menurunkan brightness atau tingkat kecerahan dari layar. Jika si kecil sudah mulai belajar membaca, pastikan juga huruf yang ia baca di layar digital cukup besar sehingga si kecil tidak otomatis mendekatkan layar ke mata.

  1. Membatasi penggunaan perangkat digital

Screen time atau waktu menonton layar digital memang perlu dibatasi sehingga si kecil tidak mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan radiasi sinar biru. Misalnya, eye strain atau ketegangan retina, pusing, dan susah tidur. Menurut panduan dari American Academy of Pedatrics, bayi di bawah 18 bulan sebaiknya menghindari aktivitas di depan layar sama sekali selain video chat. Mulai usia 18 bulan hingga 2 tahun, si kecil dapat menonton atau bermain games dengan didampingi orang dewasa. Untuk anak usia 2-5 tahun, sebaiknya aktivitas dengan layar digital dibatasi hanya 1 jam per hari.

 

Dengan terbatasnya waktu si kecil untuk menggunakan perangkat digital, tentu kita perlu memastikan bahwa program atau aplikasi tersebut edukatif dan bermanfaat bagi si kecil. Alih-alih hanya untuk bermain, ajak si kecil belajar dengan menggunakan perangkat digital tersebut.

 

Primaindisoft menyediakan berbagai konten tematik lengkap untuk Materi TK A dan Materi TK B. Materi ini berisi aktivitas menarik seperti Menghubungkan Titik, Menjawab Cerita, Menjodohkan, dan Mewarnai. Mari dampingi si kecil saat belajar dengan menggunakan materi menarik dari Primaindisoft.

 

 

Komentar