Kenal Lebih Dekat dengan Bung Hatta, Sang Proklamator yang Patut Diteladani

Euforia kemerdekaan tentu tak bisa lepas dari sosok sang proklamator, Bung Hatta. Tokoh kemerdekaan yang layak jadi panutan.

 

Siapa yang tidak mengenal sosok legendaris yang satu ini. Mohammad Hatta sang proklamator, hampir seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia mengenalnya sebagai seorang pejuang, akademisi, negarawan, wakil presiden pertama, sekaligus salah satu tokoh yang memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Semasa hidupnya, pria kelahiran Bukit Tinggi, 12 Agustus 1902 ini telah menorehkan beragam kontribusi serta semangat juang yang patut diteladani oleh generasi muda. Belum lagi sosoknya yang dikenal sangat bersahaja, kian menegaskan bahwa tokoh kemerdekaan ini layak dijadikan inspirator.

 

Masa Muda Berjuang untuk Bangsa

Bung Hatta adalah satu dari sekian pemuda Indonesia yang beruntung bisa mengenyam pendidikan di Belanda. Beliau tercatat pernah belajar di Handels Hoge School, Rotterdam, pada 1921. Di sanalah, beliau tergabung dalam organisasi kepemudaan Indische Vereniging, yang kemudian bertransformasi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

 

Tahun 1926, Bung Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Internasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Pada momen inilah, nama Indonesia mulai dikenal dan secara resmi diakui oleh negara peserta kongres.

 

Memperjuangkan Kemerdekaan RI

Setelah kembali ke Tanah Air di tahun 1932, Bung Hatta fokus pada berbagai kegiatan berbau politik; baik itu dalam organisasi maupun literasi. Hingga di awal tahun 1945, ketika Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, beliau terpilih menjadi wakil Bung Karno.

 

Kemudian, pada 16 Agustus 1945, dibentuklah sebuah panitia kecil yang beranggotakan Soekarno, Mohammad Hatta, Sayuti Malik, Soebardjo, dan Soekarni. Panitia ini bertugas menyusun teks proklamasi yang kemudian dibacakan oleh dua tokoh kemerdekaan RI, Soekarno dan Hatta.

 

Mengabdi dalam Kesederhanaan

Bung Hatta memilih mundur dari jabatan wakil presiden di tahun 1956. Beliau pun tinggal bersama istri dan ketiga anaknya di rumah sederhana yang beralamat di Jl. Diponegoro 57, Jakarta. Berbekal uang pensiun yang hanya sebesar Rp3.000, beliau hidup pas-pasan dan bahkan sempat tidak sanggup membayar tagihan listrik.

 

Padahal, bisa saja Bung Hatta menerima jabatan komisaris yang umumnya menjadi jatah pejabat purnatugas. Namun, beliau menolak karena tidak ingin memakan gaji buta dan mengecewakan amanah rakyat.

Semasa menjadi pejabat pun, beliau dikenal sebagai sosok yang merakyat. Ketika hendak melakukan ibadah haji, Bung Hatta sama sekali tidak memanfaatkan fasilitas negara dan memilih menggunakan uang tabungan dari hasil menulis buku.

 

Dalam sebuah buku biografi ‘Bung Hatta Menjawab’, beliau juga pernah berkata, “Saya ingin dikubur di kuburan rakyat biasa. Saya adalah rakyat biasa”. Meski akhirnya, ketika tokoh kemerdekaan ini wafat pada 14 Maret 1980, beliau dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.

 

Nah, itulah sekelumit kisah kehidupan dari sang proklamator. Semoga kita bisa melanjutkan perjuangan dan berkontribusi untuk bangsa.

 

 

Komentar